p0hpMcjWh9w

Sekoci.net – Ary Krisnawati didiagnosis mengalami Gagal Ginjal Kronis (GGK) pada tahun 1995. Saat itu usianya 19 tahun dan tengah menjalani kuliah kedokteran di Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Vonis tersebut membawanya ke titik terendah dalam hidup.

Perjalanan panjang menjadi pasien GGK telah mengubah hidupnya. Ia tidak menyerah pada penyakit yang telah menenaminya selama 25 tahun itu. Kini Ia telah bangkit dan menularkan semangat kepada pasien dan keluarga pasien bahwa gagal ginjal bukan gagal hidup.

Selama perjalanan hidupnya sebagai pejuang GGK, Ia pernah menjalani operasi transplantasi ginjal yang Ia dapat dari ayahnya. Tetapi ginjal cangkok itu hanya bertahan selama 9 tahun dan Ia harus kembali menjalani hemodialisa (HD) atau cuci darah hingga sekarang.

Saat ini Ary juga aktif menularkan semangat pantang menyerah bersama teman-temannya yang tergabung dalam komunitas Hidup Ginjal Muda (HGM). Ia sendiri telah merasakan bahwa bersosialisasi dan berkomunitas akan meningkatkan kualitas dan semangat hidup pasien GGK.

Dalam beberapa kesempatan Ary membagikan pengalaman dan kiat-kiatnya menjalani hidup sebagai pejuang GGK. Salah satunya dalam Seminar Awam Peringatan Hari Ginjal Sedunia yang diadakan oleh Indonesia Kidney Care Club (IKCC) di Rumah Sakit St. Carolus, Jakarta pada Sabtu 7 Maret 2020.

Ia mengatakan seorang pasien gagal ginjal harus punya dua modal yaitu semangat dan kemauan belajar. Semangat ini akan muncul ketika pasien sudah menerima kondisi dan move on.

Dalam seminar tersebut Ary juga membagikan kiat-kiatnya agar pasien gagal ginjal dengan terapi cuci darah dapat memiliki kondisi stabil.

  1. Jangan pernah bolos HD
  2. HD yang adekuat, pastikan Kt/v minimal 1,8. Lakukan seminggu 2x dan selesai HD berat badan kering tercapai. Jika terpaksa tidak tercapai segera perbaiki pada HD selanjutnya.
  3. Kenali gejala-gejala drop dan cara mengantisipasinya. Jangan memaksakan diri jika saat HD drop karena masih ada HD selanjutnya.
  4. Jaga asupan cairan sehingga kenaikan berat badan antar HD maksimal 5 persen dari berat badan kering.
  5. Jaga asupan makanan sehingga gizi terpenuhi.
  6. Jaga tensi senormal mungkin dengan tercapainya berat badan kering dan terapi obat yg tepat.
  7. Minum obat rutin sesuai anjuran dokter dan jangan lupa binder fosfat. Serta selalu sedia obat-obatan darurat.
  8. Periksa laboratorium secara rutin, jangan menunggu ada keluhan.
  9. Jaga hemoglobin pada kisaran 10-12 serta albumin minimal 3,5.
  10. Lakukan evaluasi berat badan kering secara berkala.
  11. Berolah raga dan lakukan aktifitas fisik.
  12. Berpikir bahagia, hindari stress, bersosialisasi, dan berkomunitas

Facebook Comments